Pages

Senin, 22 Oktober 2012

[Original Fiction / Orifict] QUIRKY

0 komentar

QUIRKY

Quirky © faricaLucy aka Lucy Na & Han Rae Woo
Rate: T
Genre: Friendship, humor, romance
Warning(s): Setting di sini hanyalah fiksi belaka, NO YURI!, typo, etc.
Summary: Alkisah empat sekawan yang selalu bersama, di kala suka maupun duka, di kala gila maupun waras. Bersama girlband mereka… QUIRKY! Dan kisah unik percintaan mereka masing-masing.
Terinspirasi dari anime/manga K-On! miliknya Kakifly. :3
Don’t like, don’t read!
Enjoy! ^^
.
.
.

Chapter 1: Girlband? What?

Di salah satu kota di Indonesia, terdapat sekolah swasta yang merupakan cabang sekolah berbasis internasional dari luar negeri, SMA Masada. Sekolah ini bergedung besar dengan cat berwarna elegan, serta lingkungan yang asri dan ramah lingkungan. Sebagian dari guru-guru yang mengajar di sekolah ini berasal dari luar negeri—yang dipilih secara ketat. Murid-murinya pun diajarkan untuk beretika tinggi—tidak hanya dalam bidang akademik, tapi juga bidang sosial sangat diperhatikan.
Sekolah ini memulai kegiatan belajar-mengajar mereka pada pukul 8.00 pagi, dan selesai pada pukul 3.30 sore. Walaupun memiliki waktu belajar yang lebih lama, KBM mereka hanya pada hari Senin sampai dengan Jumat. Hal ini dikarenakan karena sekolah ini berbasis internasional—sekali lagi, internasional.
Di sekolah ini terdapat banyak sekali ekstrakurikuler yang biasa disebut sebagai klub. Ada klub karate, klub pemanah, klub sepak bola, dan lain sebagainya. Memang benar, sekolah tidak mengharuskan murid-muridnya mengikuti salah satu klub yang ada. Hanya saja, keterlibatan dalam klub juga turut mempengaruhi prestasi di sekolah. Jadi, lebih baik ikut klub saja kan?
Hari ini adalah hari ketiga sejak upacara masuk sekolah di SMA Masada. Ginny melangkahkan kakinya melewati gerbang besar menuju kelasnya di X-1. Tampak ketiga sahabatnya—Patricia, Anna, dan Laura telah menunggunya di depan kelas.
“Mbah Ginny tumben lama datangnya,” sapa Anna ketika gadis berkacamata itu mau memasuki kelas. Mbah memang panggilan ‘khusus’ yang diberikan ketiga sahabatnya untuk Ginny.
“Eh? Masa? Lo kali yang kecepetan,” sahut Ginny sambil meletakkan tasnya di bangku.
“Ngomong-ngomong, gue pergi bentar ya,” kata Patricia, bersiap akan pergi.
“Ke mana?” tanya Laura sambil memperhatikan secarik kertas yang digenggam oleh Patricia.
“Ke Klub Teh,” jawab Patricia polos.
“Hah? Lo gak pernah bilang mau masuk ke klub itu?!” Anna terlihat kaget.
Sorry… Lo kan udah pada tahu kalo gue itu otaku*. Nah, di Klub Teh ini ada teh jepang, jadi—“
No, no, no, no!” Anna menggeleng cepat, tidak menyetujui apa yang telah direncakan Patricia. Iapun berusaha mengambil kertas yang akan dibawa Patricia. Untunglah Patricia memiliki postur tubuh yang ‘sedikit’ lebih tinggi dari ketiga sahabatnya. Dengan mudah, Patricia bisa menghindar dari serangan dadakan (?) Anna.
“Ann kejam!” seru Patricia sambil memperlihatkan wajah unyunya tanpa sadar. Ginny dan Laura yang melihat wajah Patricia itu terdiam sejenak, lalu—
“YA AMPUN~! CIAAAAAAAA!!!” teriak, sambil mencoba memeluk Patricia yang biasa disapa Cia oleh sahabat-sahabatnya itu.
Keempat sekawan itu terlihat rusuh dadakan dan nyaris dijadikan tontonan gratis orang-orang di sekitarnya. Persahabatan mereka memang sudah terjalin cukup lama, yaitu ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

~(-_- )~~(-_-)~~( -_-)~

Secarik kertas yang awalnya utuh, kini sudah menjadi bagian-bagian kecil yang sudah teramat sulit untuk disambungkan. Alis Patricia mengkerut. Akibat kerusuhan dadakan itu, ia membatalkan niatnya untuk masuk ke Klub Teh. Sementara Anna ber-YES-ria dalam hati.
“Hfffttt… Gak ada klub lain yang membuat gue tertarik kecuali Klub Teh,” gumam Patricia agak sedih.
“Sudah, sudah. Lagipula lo sih, tega banget pisah sama kita-kita,” ujar Anna santai. Patricia hanya mendengus kesal.
Ginny pun mulai angkat suara. “Nah, karena Cia udah batal masuk Klub Teh, kita harus—“
“Potong tumpeng! Yeee!” teriak Laura yang disahut wajah what-maksud-lo dari ketiga sahabatnya.
“Bukan, Ra!” sahut Ginny seraya akan menjitak jidat Laura, tapi gak jadi. “Kita harus mencari klub yang akan kita ikuti bersama,” sambung Ginny wibawa. Ceilah.
Semuanya terlihat berpikir, kecuali Patricia. Pikirannya masih say-goodbye pada Klub Teh dambaannya.
“Ah!” pekik Laura tiba-tiba, membuat ketiga sahabatnya terkejut—terlebih Patricia. Yang awalnya say-goodbye, malah jadi say-Ah! pada Klub Teh. What?
“Ya ampun, Laura! Lo mau liat gue terbaring lemah di kasur rumah sakit?” kata Anna mendramatisir sambil mencoba meredakan keterkejutannya.
Sorry, Ann. Tapi, gue tahu solusi dari permasalahan kita.”
“Apaan? Yang pasti klubnya enak dong?” tanya Patricia penasaran.
“Oh, tentu! Kalian mau tahu klub apa?” Patricia semakin membuat ketiga sahabatnya penasaran. Semuanya mengangguk untuk mengetahui klub apa yang dimaksud oleh Laura. “Klub Musik!!!” ucapnya senang.
Ketiga sahabatnya pun kaget bukan kepalang. “OGAH!”
“Yaelah, kalian ini gimana sih? Seru tauk,” ujar Laura lemes.
Ginny menghela nafas berat seraya berkata, “Emang lo udah lupa tragedi kita pas SMP?”
“Tragedi apaan?” tanya Laura dengan wajah polosnya. Yang lain frustasi dadakan.
Anna sedikit kesal dengan kelolaan sahabatnya itu. “Tragedi yang itu loh! Yang pas kita lagi asyik-asyiknya makan, lalu—“
“DIPAKSA IKUT PADUAN SUARA! YA AMPUN, GUE INGET BANGET ITU! APALAGI PAS ITU KAN GUE LAGI GAK ENAK BADAN!” ujar Ginny gak nyantai dengan penekanan pada kata ‘dipaksa’.
“BENER, BENER! PAS ITU GUE KIRA BAKALAN SERU. TERNYATA… OH MY GOD! GUE BISA TIDUR PULAS DI SONO!” Patricia ikutan gak nyantai.
“Yaelah, kalian modern dikit napa?” Tiga pasang mata sahabatnya itu mendelik cepat ke arah Laura. “Gue berani jamin kalo Klub Musik di sini bakalan seru.”
“Lo yakin? Isinya bukan paduan suara ato seriosa gitu kan?” tanya Anna memastikan.
“Nggak. Gue berani jamin, deh…”
“Kalo ternyata gak seru, kita langsung keluar, loh,” ujar Patricia.
“Ya ampun, lo pada gak percaya sama gue? Lo kan udah pada tahu kalo kakak gue alumni SMA ini, jadi informasi yang gue punya itu terpercaya banget,” ucap Laura pede.
“Iya, iya,” kata Patricia lemes.
“Jadi, kita masuk Klub Musik nih?” tanya Anna memastikan pilihan sahabatnya itu.
“Kita gak akan tahu sebelum mencoba. Ayo!” ucap Ginny sambil melangkah menuju ruang Klub Musik, yang diikuti oleh ketiga sahabatnya. Sebenarnya gue gak yakin. Tapi gak apalah, kalo-kalo bener kata si Laura, batin Ginny gak tenang.

~(-_- )~~(-_-)~~( -_-)~

TOK! TOK! TOK!
“Permisi,” kata Ginny sambil mengetuk pintu klub itu untuk kesekian kalinya. Namun lagi-lagi hening. Tidak ada seorangpun yang menjawab.
“Jangan-jangan gak ada orang di dalem,” kata Anna.
“Gue bisa jamuran lama-lama di sini,” ucap Laura sambil menghela napas.
“Yaelah, lo juga kan yang ngajak,” sahut Patricia pada Laura. Ia juga terlihat lelah menunggu di depan pintu. Laura hanya manyun mendengar sahutan Patricia.
Memang benar, bagaimana tidak lelah jika kalian terus menunggu sambil mengetuk pintu selama 10 menit tanpa mengetahui secara pasti apakah ada orang di dalam sana. Tapi sepertinya keempat gadis itu tidak mengenal kata ‘menyerah’, mereka masih juga menunggu di depan pintu klub tersebut.
Tiba-tiba seorang cowok dengan mata agak sipit datang, sepertinya dia hanya akan lewat. Dia terlihat baru keluar dari Klub Basket yang notabene berada di sebelah ruang Klub Musik. Namun terbalik dari yang diperkirakan, dia malah diam dengan wajah datar sambil memperhatikan keempat gadis itu. Merasa diperhatikan -dan sedikit kegeeran- keempat sekawan itu memperhatikan balik ke arah cowok bertampang datar itu. Keheningan mulai memenuhi suasana di sana.
“…”
“…”
“Ngapain kalian tegak-tegak di sini?” Akhirnya cowok itupun membuka suara.
Anna terpancing dengan pertanyaan cowok itu. “Ha? Masalah buat l—“
Namun Ginny memutus ucapan Anna. “Kami mau masuk Klub Musik,” ujarnya.
“…Kalian yakin?” Keempat sekawan itu sedikit tersentak kaget, dan langsung mendelik ke arah Laura. Laura hanya mengangkat kedua bahunya. “Klub Musik sudah tidak ada lagi sejak 3 tahun lalu,” kata cowok itu.
DEG! Lagi-lagi keempat sekawan itu tersentak kaget.
“Ta-tapi, kata kakak gue—“ Laura berusaha membenarkan opininya, tapi sudah keduluan didelik oleh ketiga sahabatnya dengan tatapan gue-udah-berdiri-di-sini-selama-sepuluh-menit-tanpa-ada-harapan. Laura hanya meneguk ludah melihat tatapan mengerikan dari ketiga sahabatnya.
“Tapi gue gak tahu juga ya,” ujar cowok itu lagi. “Gue juga masih kelas 10 di SMA ini, jadi itu cuma rumor yang gue denger dari temen-temen gue,” lanjutnya.
Semuanya terlihat menghela nafas lega. Artinya usaha mereka tidak terlalu sia-sia menunggu selama 10 menit di sana. Lalu, tak lama kemudian datang seorang ibu guru menghampiri mereka. Dilihat dari wajahnya, mungkin umur guru itu sekitar 25-27 tahun. Ibu guru yang masih muda.
“Ngapain kalian tegak-tegak di sini?” Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh guru itu.
Anna sudah malas menyahut, akhirnya Ginny juga yang menyahut. “Kami mau masuk Klub Musik, Bu.”
Ibu guru itu melihat mereka dengan tatapan mendramatisir. Matanya terlihat berkilat-kilat seperti—bahagia?
“AKHIRNYAAA…! Ayo, anak-anak! Kita masuk ke ruang klub!” seru guru itu sambil mengeluarkan kunci ruang Klub Musik dari saku bajunya. Keempat sekawan itu hanya tersenyum tipis. Mereka memang senang, akhirnya bisa masuk ke Klub Musik, tapi di sisi lain mereka juga kesal. Artinya selama 10 menit tadi ruangan itu memang kosong?
Cowok bertampang datar itu kembali memperhatikan keempat gadis itu, lalu mulai mengambil langkah untuk pergi. Tapi sang guru menghentikan langkahnya. “Hei, kau! Bukankah kau juga ingin masuk Klub Musik?”
Cowok itu menggeleng cepat, “Saya sudah masuk Klub Basket. Hanya mereka berempat yang ingin masuk ke Klub Musik.” Lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Guru itu hanya mengangguk mengerti, lalu membuka pintu ruang klub dengan kuncinya. Iapun mempersilahkan keempat sekawan itu masuk ke dalam ruangan. Semuanya masuk, kecuali Laura. Entah ada maksud apa, ia mengejar cowok itu dan menghentikannya.
“Tunggu!” teriak Laura.
Cowok itupun berhenti dan menoleh ke arah Laura. “Ada apa?”
“Gue Laura, dari kelas X-1. Kalo elo?”
“…” Cowok itu mengangkat sebelah alisnya.
Laura menggaruk tengkuknya yang sama sekali gak gatal. “Kalo gak kenal maka gak sayang kan,” ujarnya.
Cowok itu terlihat mengangguk sedikit dan tampak memikirkan perkataan Laura. “Hoshi Nakamura. Kelas X-2.”
Laura terlihat tersenyum lebar, dalam hati ia sangat senang sekali. “Senang berkenalan. Kelas kita sebelahan, ruang klub kita juga sebelahan. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik,” ujarnya dengan penuh pengharapan di setiap kata-katanya itu.
“Hn.” Cowok itu—Hoshi, hanya mengangguk sekali lalu pergi.
Laura yang melihat Hoshi pergi langsung berteriak, “Bye… Oh, juga makasih ya…!” Lalu balik melangkah memasuki ruang Klub Musik. Ia terlihat sangat senang.

~(-_- )~~(-_-)~~( -_-)~

Ruangan Klub Musik itu didominasi dengan cat berwarna putih, cokelat, dan pink. Walaupun Ginny sangat membenci warna pink, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ruangan itu terlihat mewah. Ruangan itu memang cukup besar dan luas. Terdapat kaca yang sangat besar memenuhi dinding sebelah kanan, lalu terdapat meja persegi panjang dengan 6 kursi mengelilingi meja tersebut. Tidak jauh dari meja, terdapat sebuah pintu bertengger di sana. Di sana juga terdapat lemari yang berisi seperangkat alat makan, serta 1 hal—grand piano.
Awalnya keempat sekawan itu takjub melihat suasana dan isi ruangan itu, tapi setelah melihat grand piano—GLEK! Mereka malah teringat dengan tragedi saat mereka SMP itu. Paduan suara.
‘Gawat! Jangan beneran jadi paduan suara,’ batin Ginny, Patricia, dan Anna. Namun kebalikan dengan Laura. Ia hanya senyum santai aja.
Setelah melihat-lihat, merekapun duduk di bangku yang ada di ruangan itu. Ibu guru juga memulai obrolan. “Kalian murid kelas 10, ya? Oke, kita perkenalan dulu, ya.” Semua mengangguk.
“Nama ibu Aprilia Sari, biasanya dipanggil dengan Bu Lia. Ibu lahir di Bandung, 24 April. Sekarang umur ibu 26 tahun. Dulu ibu kuliah di UGM, mengambil jurusan sastra. Sebenarnya ibu tidak berminat menjadi guru, tapi akhirnya ibu jadi guru juga, haha. Ibu sudah mengajar di sini selama 4 tahun, yah bisa dibilang guru baru, hehe. Dan selama 4 tahun itu pula ibu mengharapkan seorang pendamping hidup, tapi sampai saat ini ibu belum menemukannya juga, haha. Jadi, kalian bisa menebak kalau ibu ini masih single. Ibu adalah wali kelas X-2, sekaligus guru Bahasa Inggris untuk kelas 10 dan 11, dan juga pembimbing untuk Klub Musik. Lalu—“
“I-iya, salam kenal Bu Lia.” Ginny memotong perkenalan diri dari gurunya itu yang teramat sangat panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume balok. Baru kali ini gue ketemu guru yang pengenalan dirinya sangat-sangat lengkap, batin Ginny.
Barusan itu pengenalan diri atau riwayat hidup sih, batin Anna yang kaget mendengar penuturan sang guru. Sedangkan Patricia dan Laura hanya melongo mendengarnya.
“Nah, silahkan perkenalkan diri kalian satu-satu,” ucap Bu Lia. Perkenalanpun dimulai dari Ginny.
“Nama saya Ginny.”
“Nama saya Patricia, biasa dipanggil Cia.”
“Saya Anna, panggil aja Ann.”
“Nama saya Laura.”
“Kami berempat dari kelas X-1,” tambah Ginny. Perkenalan diri yang teramat sangat-sangat singkat. Sang guru hanya mengangguk sambil ber-OOH-ria.
“Oh, ya, tadi gue sempet kenalan sama cowok tadi loh!” seru Laura dengan senyuman terlebarnya.
“Wow,” ucap Anna.
“Iiih, lo nanya dulu dong, ‘harus bilang WOW, gitu?’ terus gue jawab ‘iya!’ lalu lo baru bilang ‘WOW’!!! Gitu, Ann!” Laura mulai berdebat hal yang sama sekali gak penting dengan Anna.
“Lah, kok maksa,” sahut Anna sewot.
“Huh!”
“Udah-udaaaaaaaah! Lanjutin, Ra!” ucap Ginny menenangkan keduanya.
“Terus, terus, gue tanya namanya siapa… Lalu dia bilang namanya Hoshi Nakamura, dari kelas X-2!” terang Laura dengan semangat 45.
“Wah, artinya anak murid dari kelas ibu, ya,” sahut Bu Lia sambil mengelus-elus dagunya.
“Iya, iya!” Laura mengangguk dengan semangat.
“Hmm, dari namanya… dia orang Jepang ya?” Akhirnya Patricia membuka suara. Ia tampak berpikir.
“Eh, iya juga. Matanya juga agak sipit.” Ginny menyetujui penuturan Patricia.
“Tapi tadi dia ngomong pake bahasa Indonesia lancar-lancar aja tuh,” ucap Anna.
“Hmm…” Semua tampak berpikir, begitu juga dengan Bu Lia.
“Mungkin belasteran,” sahut Bu Lia, yang diikuti anggukan setuju dari yang lainnya.
“Aih, tu cowok cakep bener,” gumam Laura yang didengar oleh yang lain.
“CIEEE! Yang sedang berbunga-bunga.” Ginny mulai menggoda Laura. Laura hanya tersipu malu.
“IYA! Ada bunga tulip, bunga mawar, bunga bangkai…,” ujar Patricia sambil menunjuk ke wajah Laura.
“Bunga yang terakhir kagak!”
“Jadi lo suka sama cowok yang menyebalkan itu?” Anna menginterogasi.
“Yaelah, Ann! Kalo temen lagi jatuh cinta didukung dong,” ujar Ginny sambil mencubit pipi Anna.
“Aduh! Sakit, Mbah!” Anna membalas Ginny dengan mencubit pipinya juga. Mereka saling cubit-cubitan pipi.
“Hahahaha…”
“Eh, ngomong-ngomong, itu pintu ke mana ya?” Anna menunjuk ke arah pintu yang ada di dekat meja. Bu Lia hanya tersenyum mengerti.
“Kalian mau lihat?”
“Eh? Boleh?”
Anna terlihat sangat penasaran. Laura juga sudah berpikir yang aneh-aneh. Jangan-jangan pintu itu tembus ke Klub Basket. Waaah, senengnyaaa…!, pikir Laura.
Bu Lia hanya mengangguk. Ia berdiri lalu membuka pintu tersebut. Keempat sekawan itu langsung melongok melihat ke dalam ruangan yang ada di balik pintu itu. Mata mereka membulat.
“EH? ALAT MUSIK?”
Ruangan itu lebih kecil dari ruangan yang mereka masuki, sekitar satu pertiganya. Di sana terdapat drum, keyboard, gitar, bass, dan perlengkapan band lainnya. Semuanya terlihat masih bagus dan layak untuk dimainkan.
“Kalian bisa membuat band,” kata Bu Lia.
Semuanya tertegun. Masih memperhatikan alat-alat musik di hadapan mereka.
“A-ano…” Patricia membuka suara. “Gue gak bisa main alat musik. Satupun.”
“Sama, gue juga,” Anna menelan ludah.
“Kalian pikir gue bisa?” imbuh Ginny sambil menghela nafas.
“Hmm… Gue bisa sih main gitar. Tapi masih basic, itupun gak dijamin bisa lancar,” sahut Laura.
Semua menghela nafas berat.
“Apa yang bisa kita lakukan di Klub Musik ini?” Patricia nyaris menyerah.
Bu Lia tampak berpikir keras. “Ah!” Sepertinya ia mendapat ide. Keempat sekawan itu saling berpandangan. Mereka sudah harap-harap cemas.
“TIDAAAK!!!”
“GUE GAK BISA NYANYIII!”
“A-ANO, GUE MINTA SURAT IZIN MASUK LAGI KE KLUB TEH, YA!”
“GUE GAK BISA IKUT PADUAN SUARA! SUARA GUE BASS!”
Keempat sekawan itu langsung kalang-kabut. Mereka menyangka akan menjadi paduan suara. Sudah cukup di SMP tersiksa, masa di SMA juga tersiksa?
“Ha? Paduan suara?” Bu Lia mengoreksi teriakan yang dilontarkan Ginny barusan.
“I-iya.” Ginny menjawab ragu.
Bu Lia langsung tertawa mendengar pengakuan Ginny. Entah bagian apa yang lucu, intinya ibu itu tertawa. “Hahaha, kalian ini lucu sekali! Haha…!”
Keempat sekawan itu mengernyitkan kening mereka. What? Maksud lo? Apanya yang lucu seh?
“Haha, aduh maap.” Bahkan Bu Lia tertawa sampai keluar air mata. Lebay, pikir keempat sekawan itu. “Begini, anak-anak. Ibu sama sekali tidak bermaksud untuk membuat kalian jadi paduan suara hanya karena ada grand piano itu. Walopun ibu masih single, ibu ini modern dan mengikuti perkembangan zaman loh~!” Tepat sekali dengan apa yang dipikirkan mereka berempat.
“Jadi?” Patricia masih bingung dibuat guru bahasa Inggrisnya itu.
“Hmm…” Bu Lia memperhatikan wajah mereka satu per satu, dan tersenyum penuh misteri. “Bisa. Masih bisa. Ada 1 konsep,” ujarnya.
“Konsep… apa?” Perasaan Ginny makin tidak mengenakkan.
“Girlband.”
WHAT?”
“Girlband.”
“HAH? GIRLBAND?”
“Ya. Girlband.”
TET! TET! TEEET! Bel masuk telah berbunyi, tapi keempat gadis itu masih saja dalam pose shock.
“Baiklah, anak-anak. Sekarang kalian masuk ke kelas. Saat keluar main nanti, kita berkumpul lagi di sini ya…!”

~(-_- )~~(-_-)~~( -_-)~

TAP! TAP! TAP!
Empat sekawan itu berlari dengan terburu-buru. Wajar saja, jarak antara ruang klub dengan kelas mereka cukup jauh. Sebagai murid baru di SMA Masada, mereka gak mau nama mereka sudah tercoreng hanya karena telat masuk kelas.
“Ayo cepetan, Ann!” teriak Patricia pada Anna yang berlari di belakangnya.
“Duh, tungguin, dong!” keluh Anna.
BRUK! Anna berlari dengan sangat terburu-buru sampai tidak melihat jalan di depannya. Ia menabrak sesorang dan jatuh.
“Aduh, lo kalo lari pake mata dong!” celoteh orang yang ditabrak Anna. Dari suaranya, Anna yakin orang itu adalah seorang cowok.
“Yaelah, di mana-mana lari itu pake kaki! Mana ada pake mata! Pelajaran biologi lo gak tuntas apah?!” sahut Anna gak mau kalah.
Anna yang jatuh langsung berdiri dan melirik ke arah cowok yang ia tabrak. Matanya langsung terbelalak. “Reo?!”
“Hais.” Cowok itu -yang juga jatuh- berdiri dengan kesal. Merasa namanya disebut, dia melihat ke arah Anna. “Ann?! Ngapain lo di sini?” Cowok itu—Reo, ikutan terbelalak.
“Lah? Seharusnya gue yang nanya ngapain lo di sini?!!” Anna semakin kesal.
“Gue masuk SMA ini. Nah, cewek tengil kayak lo ngapain di sini?”
What? Siapa yang lo maksud dengan cewek tengil, huh? Gue juga sekolah di sini tauk!”
“Hah? Kok bisa?” Reo kaget setengah hidup—eh, mati maksudnya.
“Ya bisalah! Duh, kenapa sih gue harus ketemu lo lagi! Bosen liat tampang abstrak elo! Udah, ah! Gue lagi buru-buru nih!” ujar Anna yang langsung ambil langkah ke kelasnya.
“Eh, tunggu! Lo masuk kelas mana, Ann?” teriak Reo saat Anna mulai menjauh.
“X-1!!!”
“Gue X-2!” Reo membalas sambil teriak.
Sayup-sayup Anna membalas dari jauh. “Gak ada yang nanya!”
Reo yang mendengarnya hanya tertawa kecil. Dia memandangi punggung Anna dengan senyum penuh arti.

~(-_- )~~(-_-)~~( -_-)~

Waktu istirahat telah tiba. Keempat sekawan dan Bu Lia benar-benar berkumpul di ruang klub. Semua terlihat santai dan memasang wajah seperti biasa. Tapi tidak untuk Anna. Dari tadi dia hanya cemberut, membuat suasana di sekitarnya menjadi suram.
“Ada apa sih, Ann? Kayaknya dari tadi lo bete terus,” tegur Patricia yang khawatir keadaan sahabatnya itu.
Anna menghela nafas kesal. “Asem banget, deh! Tadi gue ketemu Reo!!!”
“Reo? Si Oreo maksud lo?” tanya Laura memastikan.
“Ya,” jawab Anna singkat. Ia sekarang benar-benar bete.
“Ann, seharusnya lo seneng dong bisa ketemu lagi sama temen bertengkar lo dari SMP,” ucap Ginny yang malah membuat Anna makin bete. Anna hanya membalasnya dengan tatapan tajam. “Iya, iya. Sorry, Neng!”
“Huft!”
“Oh, ya, dia masuk kelas mana?” tanya Patricia.
“X-2,” jawab Anna datar.
“EEH! Sekelas dengan Hoshi dong?” Laura kaget mendengarnya. Entah kenapa, ia sedikit menyimpan sedikit harapan?
“Heboh, deh,” ujar Ginny pada Laura.
Bu Lia yang melihat anak-anak muridnya itu hanya menghela nafas. “Bisa kita mulai pembicaraan kita?”
Semuanya mengangguk.
“Baiklah, kembali ke topik kita sebelumnya. Konsep kalian adalah… girlband.”
WHAT?”
“Girlband.”
“HAH? GIRLBAND?”
“Ya. Girlband.”
Kok rasanya déjà vu, ya?
“Gak bisa nyanyi. Gak bisa dance. Gak bisa imut,” gumam Patricia datar.
“SETOJOH! Gak bisa imut!!! Gak bisa. Sama sekali gak bisa.” Ginny terlihat benar-benar tidak setuju.
“Ayolah, anak-anak…” Bu Lia mulai memelas. “Saat pertama kali ibu mengajar -4 tahun lalu- ibu sangat suka Klub Musik di sekolah ini. Tapi karena ibu guru baru, ibu tidak bisa menjadi pembimbing klub ini. Satu tahun kemudian, akhirnya pembimbing klub ini pensiun. Ibu segera menawarkan diri dan diterima. Tapi… Tapi…”
“Tapi apa, Bu?” Patricia menuntut penjelasan lebih. Sementara Bu Lia mulai mendramatisir keadaan.
“Tapi… Anak-anak dari Klub Musik udah lulus semuaaa! Huhuhuhu! Setelah itu, selama 3 tahun ini, Klub Musik sama sekali tidak ada peminat. Makanya ibu sangat senang sekali kalian tertarik masuk klub ini. Jadi… ibu… hiks…” Entah sejak kapan air mata sudah menggenangi mata Bu Lia. “Ibu sama sekali tidak ingin kalian pergi.”
Ginny, Patricia, dan Laura terharu dengan penuturan sang guru. Mereka hampir menangis. Anna yang melihat sang guru dan ketiga sahabat karibnya itu hanya melongo bingung, dan segera mengecap dirinya sendiri sebagai manusia paling waras di ruangan itu.
Tapi, di balik semua itu, Laura teringat sesuatu. “Tu-tunggu… Tiga tahun? Artinya apa yang dikatakan Hoshi itu benar?”
“Eh, iya juga, ya?” Ginny teringat akan perkataan Hoshi tadi pagi. Patricia hanya mengangguk setuju.
“Semuaaa dihubungkaaan dengaaan Hoshiii,” celetuk Anna pada Laura.
“Yeee, biarin!” sahut Laura sambil menjulurkan lidahnya.
TOK! TOK! TOK! Ada manusia yang mengetuk pintu. Ya iyalah, masa hewan. ==”
“Tunggu sebentar ya, anak-anak.” Bu Lia berdiri dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya Anna melihat orang yang ada di balik pintu itu.
“REO?!” seru Ginny, Patricia, dan Laura bersamaan.
“Oh, kalian juga sekolah di sini?” tanya Reo sambil tersenyum. Ginny, Patricia, dan Laura mengangguk. Anna hanya memalingkan muka dan mengerucutkan bibirnya.
“Ada apa?” tanya Bu Lia.
“Ini.” Reo memberikan secarik kertas pada Bu Lia. “Satu bulan lagi akan diadakan festival ulang tahun sekolah. Di festival tahun ini akan diadakan pementasan untuk setiap klub. Dan karena Klub Musik sudah memiliki anggota, maka Klub Musik juga akan ikut tampil bulan depan,” terang Reo.
Bu Lia memperhatikan isi dari kertas tersebut sambil terkadang mengangguk-angguk kecil. “Kapan kertas ini harus dikumpulkan lagi?” tanyanya.
“Hmm, kalau bisa sekarang juga,” jawab Reo.
Di sisi lain, Anna terlihat makin kesal dengan kedatangan Reo dan lagaknya yang menurut Anna sangat sok-sokan itu. “Hei, Reo! Kenapa harus lo sih yang ngasih? Emang lo itu anggota OSIS?” ujar Anna sewot.
“Hmm, lebih tepatnya calon anggota OSIS,” sahut Reo sedikit sombong. Keempat sekawan itu kaget.
“Oh.”
Sambil membaca tulisan yang ada di kertas itu, Bu Lia berjalan mendekati meja dan duduk. Lalu ia memperlihatkan isi dari kertas itu. Ternyata itu adalah formulir pendaftaran yang harus diisi oleh setiap klub yang akan ikut dalam pementasan di festival ulang tahun sekolah.
“A-ano, saya akan menunggu,” kata Reo sambil tersenyum, kemudian melanjutkan, “bolehkah saya masuk ke dalam?”
“NGGAK! Lo tegak di situ, nemenin pintu!” sahut Anna langsung. Reo hanya meneguk ludah.
Kembali pada secarik kertas formulir itu. Di situ tertulis Klub: ..., dan dibawahnya tertulis Nama Klub: …. Untunglah Bu Lia membawa pena di sakunya, iapun mulai mengisi formulir tersebut.

Klub: Klub Musik
Nama Klub: …

Tunggu… nama klub?
“Eh, nama klub?” Ginny bingung.
“Iya, setiap klub memiliki namanya sendiri-sendiri,” sahut Laura.
“Hmm, gimana kalo ‘Blossom’?” Patricia menyarankan. “Seperti bunga Sakura yang bermekaraaaan,” lanjutnya.
“Nggaaak,” tolak Ginny.
“Atau mau ambil dari nama Dewa Yunani?” Laura mengeluarkan idenya.
“Aphrodite?” gumam Anna.
“Atau… Athena?” Patricia kembali memberi saran.
“Cari nama yang menarik, dong…!” seru Ginny.
“Duh, Mbah cerewet, deh! Ngomong aja, dari tadi gak ada mikir,” cibir Anna.
“Mikir kok, barusan…”
“Huh, dasar! Mbah, mbah!”
“A-ano.” Suara Reo kembali masuk ke telinga Anna. “Waktu kalian tinggal sebentar lagi.”
“Wah, harus buru-buru nih! Ayo, anak-anak, keluarkan kreatifitas kalian!” seru Bu Lia, berharap bisa membangkitkan daya kreatifitas keempat sekawan itu.
“Mikir, dong, Mbah!” kata Anna pada Ginny.
“Yaelah, ini juga lagi mikir, Ann!”
“Woi, jadi apaan nih? ‘Star’ deh! ‘STAR’!” ujar Laura. Sekarang, kerusuhan mulai terjadi.
“GAK MAU! TERLALU BIASA!” protes Ginny dan Anna barengan.
“JADI APAAN, DONG?!”
“LO MIKIR DULU DONG!”
“YAELAH, TADI KAN GUE UDAH MIKIR!”
“GUE SEKARANG JUGA LAGI MIKIR NEH!”
“HADOOOH, BURUAN! UDAH, UDAH! PADUAN SUARA AJA!”
“YAELAH, LEBIH GAK NYAMBUNG LAGI MBAAAAAH!!!!”
Ginny, Anna, dan Laura terlihat semakin buat rusuh. Tanpa mereka sadari, Patricia diam-diam sudah menuliskan nama untuk klub mereka dan akan memberikannya pada Reo.
“STOOOP!” teriak Laura kenceng. Untunglah, Ginny dan Anna bisa langsung diem. “TUH!” Laura menunjuk ke arah Patricia yang sedang memberikan kertasnya pada Reo. Semuanya kaget.
Thanks,” ujar Reo, dan langsung pergi tanpa pamit.
“TUNGGUUU! CIAAA! LO NULIS APA DI KERTAS ITU!!!” tanya (baca: teriak) Ginny dan Anna barengan. Laura hanya menutup telinganya saja.
“Hmm…”
“Apaan? Kasih tahu gue,” rengek Ginny.
“Kasih tahu gue juga…!” imbuh Anna.
“Hmm… Gue kasih nama… QUIRKY!”
“QUIRKY?!”
PROK! PROK! PROK! Bu Lia bertepuk tangan pada keempat sekawan itu, mengalihkan perhatian mereka.
“Waktu kalian hanya 1 bulan untuk tampil. Jadi, bersiaplah,” ujar Bu Lia. Semua hanya meneguk ludah.

To Be Continued…

.
.
.

Hallo, selamat siang semua. ^_^
Saya Lucy Na, author utama dalam pembuatan cerita ini. Cerita ini dibuat bersama temen saya dengan mengusung konsep girlband. Haha, semoga kalian suka ya! ^_^
Karya ini adalah karya ASLI kami, bukan plagiat. Jika kalian menemukan cerita yang sama dengan ini, tolong segera beritahu saya, ya. Karena saya telah membuatnya dengan susah payah.
Cerita ini saya dan temen saya buat untuk 2 orang temen saya. Maaf ya kalau jelek. T_T Soalnya saya belum terlalu mahir dalam membuat cerita.
Nah, terakhir, silahkan tinggalkan jejak kalian berupa review! ^_^
Terima kasih dan selamat siang. :D